Minggu, 22 Januari 2012

Jujur Dalam Ujian Nasional Cermin Nilai Karakter


Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs maupun tingkat SMA/MA/SMK tahun 2012 akan dihelat pada bulan April. Persyaratan kelulusan dalam UN tahun 2012 tidak ada perbedaan dengan tahun 2011, yaitu: 1) nilai rata-rata semua mata pelajaran yang diujikan minimal 5,5, dan 2) nilai setiap mata pelajaran yang diujikan minimal 4,0. Baik nilai rata-rata semua mata pelajaran maupun nilai setiap mata pelajaran diambil setelah dikonversi ke nilai akhir (NA). Formulasi Nilai Akhir (NA) merupakan gabungan dari 40% Nilai Sekolah (NS) dan 60 % Nilai Ujian Nasional (UN). Secara matematik dapat ditulis : NA = (40% x NS) + (60% x UN). Sedangkan formulasi NS merupakan gabungan dari 40% Rata-Rata Nilai Rapor (NR) Semester 3, 4, dan 5 (untuk SMA/MA) atau Semester 1, 2, 3, 4,dan 5 (untuk SMP/MTs) + Nilai Ujian Sekolah (US). Secara matematik dapat ditulis : NS = (40% x NR) + (60% US). Sebagai contoh perhitungan untuk kedua formula di atas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No
Mata Pelajaran
Rata-Rata Rapor (NR)
NR x 40%
Ujian Sekolah (US)
US x 60%
Nilai Sekolah (NS)
NS x 40%
Nilai Ujian Nasional (UN)
UN x 60%
Nilai Akhir (NA)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7) = (4) + (6)
(8)
(9)
(10)
(11) = (8) + (10)
1
Bahasa Indonesia
7,00
2,80
6,56
3,94
6,74
2,70
2,75
1,65
4,35
2
Bahasa Inggris
7,55
3,02
6,75
4,05
7,07
2,83
4,50
2,70
5,53
3
Ekonomi
6,85
2,74
5,00
3,00
5,74
2,30
5,60
3,36
5,66
4
Matematika
7,00
2,80
5,25
3,15
5,95
2,38
4,50
2,70
5,08
5
Sosiologi
6,00
2,40
6,10
3,66
6,06
2,42
6,10
3,66
6,08
6
Geografi
7,58
3,03
6,50
3,90
6,93
2,77
6,80
4,08
6,85
Rata-Rata
5,59
Keterangan
Lulus

Dalam UN hanya ada dua pilihan, yaitu " Lulus " atau " Belum Lulus ". Setiap sekolah menginginkan semua siswanya lulus UN. Sayangnya dalam mencapai keinginan ini masih banyak sekolah yang menempuh cara yang tidak etis, yaitu dengan cara " curang " meskipun penentuan kelulusan siswa dalam UN telah mempertimbangkan Nilai Sekolah (NS) yang merupakan gabungan rata-rata Nilai Rapor dan Nilai Ujian Sekolah dengan bobot 40% dan Nilai UN dengan bobot 60% seperti terlihat pada tabel di atas. Perilaku curang ini tercermin dari tindakan oknum kepala sekolah, guru, dan siswa, dengan modus membocorkan soal, memberi jawaban kepada siswa, merubah jawaban siswa, menyontek, dan lain-lain. Fakta-fakta ini marak ditemukan pada saat UN berlangsung maupun menjelang UN selesai dan telah menjadi berita pada beberapa media massa baik di TV maupun di koran. Untunglah pemerintah sangat respon dan tegas menanggapi dan menindaklanjuti setiap laporan kecurangan yang terjadi dalam UN. Tentu saja kita berharap tindakan tegas dari pemerintah terhadap oknum-oknum yang terbukti melakukan kecurangan dalam pelaksanaan UN dapat dihukum sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar ada efek jera bagi oknum-oknum tersebut.
Kecurangan dalam pelaksanaan UN yang mengharapkan kelulusan setinggi-tingginya atau 100% merupakan tindakan untuk memenuhi kepentingan jangka pendek saja. Dampak jangka panjangnya justru akan membuat siswa malas belajar karena dalam pikiran mereka tersimpan kesan " tanpa belajar pun bisa lulus ". Selain itu, guru sulit mengukur keberhasilan mengajarnya karena hasil yang diperoleh siswa tidak valid dan reliabel. Maka jika kedua hal ini, yaitu " siswa malas belajar " dan " guru sulit mengukur keberhasilan mengajarnya " terus terjadi di kalangan pendidikan, maka pendidikan hanya akan menjadi pekerjaan seremonial yang jauh dari nilai-nilai moral, intelektual, dan etika. Pendidikan yang menghasilkan generasi pelanjut yang jauh dari nilai-nilai moral, intelektual, dan etika sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, sudah saatnya semua elemen bangsa, baik yang langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan maupun yang tidak, mendukung sepenuhnya proses pendidikan yang mengedepankan moral, intelektual, dan etika melalui pelaksanaan evaluasi atau penilaian yang jujur dan bermartabat. Penilaian melalui ujian nasional hendaknya dijadikan sebagai alat ukur sekolah dalam menilai prestasi sekolah bukan sebaliknya dijadikan alat untuk mengangkat prestise sekolah. Maka berikanlah kepercayaan sepenuhnya kepada siswa untuk menjalani ujian nasional untuk mencapai kelulusan dengan prestasi yang jujur. Insya Allah jika cara ini yang kita lakukan, para siswa akan menyadari betapa pentingnya belajar. Insya Allah juga siswa-siswa seperti ini akan menjadi generasi pelanjut yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemaslahatan bangsa dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar